Hari Jadi ke- 19 Kota Banjarbaru

Segenap Kepala Sekolah, Pendidik dan Tenaga Kependidikan SD Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Banjarbaru mengucapkan: Selamat Hari Jadi Ke- 19 Kota Banjarbaru. Banjarbaru BERINOVASI.

"Banjarbaru; Melayani - Berkarakter"


Tanggal 19 April 1999 adalah Hari jadi Kota Banjarbaru, ditetapkan dengan UU No. 9 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kota Administratif Banjarbaru, sebagai pemekaran (otonomi) daerah dari Kabupaten Banjar. Pelantikan Akhmad Fakhrulli sebagai pejabat Wali Kota Banjarbaru oleh Menteri Dalam Negeri Syarwan Hamid di Jakarta27 April 1999, menandakan resminya alih status Banjarbaru dari Kota Administratif menjadi Kotamadya (kota). 
Perjuangan panjang berbagai pihak akhirnya sampai kepada “idaman antara” setelah Banjarbaru dengan berbagai status administratif dipimpin oleh Baharuddin (1966), A.G. Hanafiah (1970-1975), Abdul Moeis (1975-1981), Abdurrahman (1981-1983), Eddy Rosasi (1983-1984), Zamawi M. Aini (1984-1986), Yuliansyah (1986-1990), Raymullan (1990-1993), Hamidhan B (1993-1998) dan Akhmad Fakhrulli (1998-1999) yang menjadi wali kota administratif sekaligus pejabat wali kota dan Rudy Resnawan (2000-2015) sebagai wali kota terpilih pertama, dan sekarang dipimpin oleh H. Madjmi Adhani (2015-sekarang).
Berhasilnya Banjarbaru memperoleh status kota setelah menyandang status kota administratif terlama di Indonesia, 23 tahun, sungguh merupakan momen Banjarbaru memasuki era baru. Adalah DPRD Kota Banjarbaru melalui pemilihan wali kotanya, memilih Rudy Resnawan sebagai wali kota pertama Kota Banjarbaru, menggantikan Fakhrulli sebagai wali kota transisional.
Sekalipun gerak pembangunan “sesungguhnya” dimulai ketika Rudy menjabat wali kota, gagasannya sudah dicanangkan seiring dengan umur Banjarbaru. Artinya, setiap wali kota, aparat, dan masyarakat telah “berperan” sesuai visi dan kiprahnya masing-masing. Bahwa, Banjarbaru tampak ke permukaan begitu-begitu saja dalam umurnya hampir setengah abad, itu soal lain. Tapi, sejak statusnya berubah menjadi kota, pengenjotannya terlihat lebih serius dan kencang.
Bahkan, dalam rekaman sejarah, pengembangan dan “perjuangan” status Banjarbaru sebenarnya bukanlah sekadar menjadikannya sebagai kotamadya. Bukan pula “hanya” sebagai ibukota Kalimantan Selatan, tetapi ibukota Kalimantan sesuai dengan kondisi objektif tahun 1950-an ketika Kalimantan belum terbagi menjadi lima provinsi.
Tepatnya, baik perjuangan status maupun pengembangan kota berjalan bersamaan. Suatu “modal” bagi pembangunan Banjarbaru ke depan. Setidaknya, bercermin rekaman historis, kalau kita mampu memaknai, dengan titik berangkat awal millenium III dengan memompakan pride (kebanggaan) bagi seluruh warga adalah titik berangkat sebuah harap masa depan Banjarbaru. (rie)

Posting Komentar

0 Komentar